oleh

Prospek Rupiah Tahun 2024 Menurut Ekonom dan BI

JAKARTA – Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Bank Indonesia (BI) sepakat mengenai asumsi dasar nilai tukar rupiah tahun 2024. Rata-rata nilai tukar rupiah tahun 2024 diperkirakan bergerak di kisaran Rp 14.700 hingga Rp 15.200 per dolar AS.

Gubernur BI, Perry Warjiyo optimisme penguatan nilai tukar rupiah tahun depan.

“Saya yakin aliran modal asing masuk, bukan hanya dari penanaman modal asing (PMA) dari hilirisasi, tetapi juga dari investasi portofolio,” terang Perry, Kamis (8/6).

Perry menambahkan, masuknya arus modal asing ini didorong oleh empat faktor.

Pertama, pertumbuhan ekonomi tahun depan yang berpotensi lebih tinggi dari tahun ini.

Kedua, inflasi yang tetap terkendali.

Ketiga, neraca pembayaran yang solid dengan defisit neraca transaksi berjalan yang masih rendah.

Keempat, imbal hasil surat berharga negara (SBN) maupun aset keuangan yang terus menarik sehingga menarik masuknya modal asing.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, menilai proyeksi BI mengenai pergerakan nilai tukar rupiah tahun depan cukup realistis. “Ini seiring dengan berlanjutnya potensi dana asing masuk di tahun 2024,” terang Josua (5/6).

Menurutnya, masuknya investasi asing kemungkinan karena penurunan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) di tahun 2024 yang memicu aliran modal asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Dengan demikian, otoritas perlu menegakkan kuda-kuda kuat, seperti menjaga tingkat suku bunga dengan bank sentral AS.

Namun, Josua mengingatkan ada tantangan yang membayangi prospek pergerakan nilai tukar rupiah di tahun depan. Tantangan berasal dari kondisi eksternal, yaitu neraca transaksi berjalan yang mungkin berbalik defisit setelah beberapa tahun terakhir surplus.

Selain itu, rupiah juga berpotensi melemah secara terbatas menjelang Pemilu 2024. Ini juga menilik pola sejarah, di mana rupiah melemah jelang pesta rakyat dan kembali menguat setelah hasil pemilu diumumkan.

“Meskipun suku bunga riil Indonesia masih relatif lebih besar dibandingkan AS, tetapi BI perlu mencermati waktu dari kebijakan untuk menjaga momentum di pasar keuangan global,” terangnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed