BEKASI – Ketua DPRD Kota Bekasi Saifuddaulah mengatakan Kasus stunting lebih berbahaya dibandingkan gizi buruk.
Ia menerangkan, hal itu karena anak-anak balita hingga usia 2 tahun dapat mengalami perlambatan pertumbuhan. Padahal generasi muda adalah masa depan bangsa Indonesia.
“Anak yang menderita stunting memiliki riwayat kesehatan buruk karena daya tahan tubuh yang juga buruk. Stunting juga bisa menurun ke generasi berikutnya bila tidak ditangani dengan serius,” kata Saifuddaulah di aula Nonon Sonthanie, Kamis (15/6).
Saifuddaulah minta stakeholder turunkan kasus stunting.
“Meski mengalami penurunan, terus tekan angka stunting sampai benar-benar zero stunting,” ujar Saifuddaulah.
Menurut data provinsi jabar, dari 2019 hingga 2022, Kota Bekasi mengalami penurunan stunting. Tahun 2022 jumlah kasus stunting sebanyak 4.575 atau 3,4 %, sedangkan target nasional 18,4 %. Angka tersebut menurun dibandingkan data 2021 sebesar 7,9%.
Menurut Saifuddaulah, angka stunting di Kota Bekasi termasuk yang terendah, namun perlu adanya kerjasama semua pihak agar kasus stunting di Jabar benar-benar nol.
“Angka stunting Kota Bekasi termasuk terendah yaitu 3,44 persen. Namun untuk menzerokan stunting perlu kerjasama semua pihak, termasuk pengusaha melalui CSR,” pungkas Saifuddaulah.
/son.adv












Komentar